Minggu, 17 Juni 2012

Disini Cinta Punya Hirarki


"Aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua yang lain kecuali diriku sendiri." Begitu Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah saw. Ia hendak menyatakan cintanya kepada Sang Rasul. Dengan caranya sendiri. Tapi ia tidak menduga kalau jawaban Sang Rasul justru berbeda sama sekali. "Tidak! Wahai Umar! Sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri", jawab Rasulullah saw.
Itu ciri utamanya. Hirarki. Cinta misi berawal dan berujung pada satu dan hanya satu nama: Allah Subahanahu Wataala. Tapi Allah yang menjadi awal dan akhir dari semua cinta berkata kepada Nabi dan kekasih-Nya, Muhammad saw: "Katakanlah kepada mereka, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku." Maka cinta kepada Allah harus turun pada cinta kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. Tapi cinta kepada Muhammad saw mengharuskan kita mencintai semua manusia yang telah beriman kepadanya, khususnya para anggota keluarga yang luhur dan sahabat-sahabatnya yang mulia, dan kepada semua generasi yang datang sesudah mereka dari para tabiin dan pengikut para tabiin, serta siapapun yang mengikuti jalan hidup (manhaj) mereka dari kaum salaf bersama seluruh generasi mukmin hingga hari kiamat.
Cukup? Belum! Masih ada lagi. Cinta pada orang-orang beriman mengharuskan kita mencintai semua 'pekerjaan' yang mendekatkan kita kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Jadi cinta kepada Allah harus turun pada orang dan pekerjaan. Orang-orang itu terdiri dari Nabi dan semua orang beriman. Pekerjaan itu terdiri dari semua amal saleh.
Begitu hirarkinya. Semua cinta kita yang lain hanya akan menjadi lurus kalau ia menyesuaikan diri dengan hirarki ini. Cinta pada istri-istri dan anak-anak dan sanak saudara dan handai taulan dan sahabat karib dan rumah-rumah dan mobil-mobil dan harta-harta dan semua dan semua hanya akan menjadi lurus jika ia berada dalam ruang besar yang bernama cinta kepada Allah swt. Perasaan kita harus ditata dalam struktur cinta seperti itu.
Cinta misi adalah sebuah ruang besar tanpa batas. Semua cinta yang lain harus disusun secara proporsional dalam ruang besar itu. Tidak mudah memang. Tapi inilah sumber keharmonisan jiwa manusia. Hanya ketika emosi tertata secara apik dalam hirarki cinta misi, kita menemukan pemaknaan yang hakiki terhadap semua aliran emosi kita yang lain. Persis seperti anak-anak sungai yang mengalir sendiri-sendiri: pada mulanya menyatu di hulu, lalu tampak berpencar di tengah, tapi kemudian bertemu lagi di muara.
Dengan cara itu Al Banna memaknai cintanya pada Allah dan dakwah. Suatu saat anaknya terbaring sakit. Panasnya meninggi. Istrinya panik. Beliau sendiri sedang menjalankan sebuah aktivitas dakwah. Tapi sang istri memanggilnya pulang. Ia tidak kuat sendiri meghadapinya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada anak mereka. Tapi sang dai menjawab enteng: "Ajalnya ada di tangan Allah. Kedatanganku tidak akan menambah atau menguranginya."

*Nemu di file-file komputer. Penulis tidak diketahui.
»»  Baca Lengkap...

Jumat, 30 Maret 2012

Sebuah Perjalanan


Sebenarnya mula-mula aku hanya ingin mampir sebentar, menghirup udara segar.
Namun, entah dari telur mana tahu-tahu aku sudah ditetaskan disebuah sungai jernih, deras, tak punya kesempatan memilih nasib..

Untungnya, aku bertemu banyak teman; cericit burung dan daun pisang, pawai batang bambu, saling mengisi
Sesekali aku menyelusup di antara cericik air dan bebatu, tempat aku dan kekasihku bertemu.

Ya, kami mulai bersepakat mengasihi mungkin sama artinya dengan menyakiti?!
Itu benar, tapi apa mau dikata, air mengalir dengan sendirinya, membentur dan memecah batu pula dengan sendirinya, tak ada yang ikut campur.. Semua berjalan secara kudrati.
Kami mulai bersiasat, bercinta dan membuat luka, berjanji hidup untuk mati, dan mati untuk hidup.

Hingga suatu hari ia menghilang, meninggalkan pesan pada hujan
Jangan menunggu atau mencoba menerkaku, kita lupa satu hal, aku bukan milikmu, sayangku!

Hari demi hari menjelma janji, aku merasa begitu sepi, kala sang waktu, kekasihku memasang jarak teramat jauh.. Bahkan teramat jauh dari batas pandanganku.

Oleh karenanya, wajar jika kuputuskan mengelana menyusul makna, mencari kebebasan yang mungkin di dapat lewat pilihan.

Aku mau pergi, mengenal alasan hidup lebih dalam!
Meski kutahu, waktu adalah sebuah perjalanan panjang yang menyesatkan.

Aku diberi nama salmon, sudah ada selembar kontrak hitam di atas putih bagi kehidupan, oleh sebab itu sepantasnya ini terjadi.
Di deras arus aku menjemput maut, ku cari kekasih untuk berbagi, namun saat telah kudapati ia luput dihisap riak

Ah, andaikan kamu tahu telah kubawa nafasmu berkilo-kilo meter bersama harap dan mimpi terdalam, mungkin disamudera ini aku tak harus karam.

Sebab kekasih, aku lelah menawar harga dunia, di samudera arus sangat karam, aku dibuat luka, aku ingin kembali ke muara.. 
Tempat dulu kita pernah jatuh cinta, melahirkan lembar-lembar baru, menetaskan telir-telur baru.

Dimana mutlak ruang bagi waktu dan waktu padu untuk rindu
Dan aku tak perlu tahu, bahwa kau tak sepenuhnya milikku....
»»  Baca Lengkap...

Rabu, 28 Maret 2012

Tertawan Cinta


Ya Allah……………

Jika cinta adalah ketertawanan
Maka tawanlah aku
Dengan cinta kepada-Mu
Agar tak ada lagi
Yang dapat menawanku
Selain Engkau

Ya Allah……………..

Jika rindu adalah rasa sakit
Yang tak dapat menemukan muaranya
Maka penuhilah rasa sakitku
Dengan rindu kepada-Mu
Dan jadikanlah kematianku
Sebagai muara pertemuanku
Dengan-Mu

Ya Allaah……………..

Hatiku hanya cukup
Untuk satu cinta
Jika aku tak dapat mengisinya
Dengan cinta kepada-Mu

Akan kemanakah kupalingkan
Wajah ini dari-Mu ?
………………... . . . .. . . .. . 

Dulu, entah kapan... Ditemani semilir angin malam, rintik gerimis... 
Dan semua celoteh dunia, tentang Cinta
»»  Baca Lengkap...

Kamis, 23 Februari 2012

Hak dan Kewajiban Rakyat pada Pemerintah Untuk Kemajuan Umat


Saat ranah politik menjadi titik fokus pergerakan ini.. Bukan berarti para jundi berdiam diri dan menyerahkan segala perjuangan bangsa pada para Da'i Parlemen..
Sebuah catatan pemikiran, bahwa pemenuhan Hak dan Kewajiban Rakyat pada Pemerintahan dapat membuahkan hasil baik bagi kemajuan Umat (Irham Nur Akbar)

Pemerintah dan Rakyat, Rakyat dan Pemerintah. Dua buah kata yang tak terpisahkan satu sama lain, bagai dua sisi mata uang, palsu jika yang satu hilang. Mustahil Pemerintahan berjalan tanpa ada rakyat didalamnya.  Sebab kekuasaan pemerintahan berarti kosong jika tidak ada yang dikuasai dan diperintah, lemah tidak memiliki kekuatan apapun.

            Rakyat pun mustahil dapat hidup tanpa adanya sebuah pemerintahan, karena rakyat adalah kumpulan individu individu yang memiliki pemikiran dan sudut pandang berlainan. Tanpa adanya Pemerintahan yang mengatur, maka akan terjadi kekacauan, pertikaian tanpa henti akibat kehendak yang berbeda beda. Hanya rakyat yang terdiri dari orang orang bijak luar biasa yang bisa hidup berdampingan tanpa diatur oleh pemerintahan. Dan rakyat seperti itu hanyalah lakon suatu dongeng yang utopi.
           
            Oleh sebab itu, keberadaan rakyat dan pemerintahan dalam sebuah Negara adalah sebuah keniscayaan tidak peduli berkiblat kemana Negara itu. Bahkan dalam Islam pun keberadaan dua unsur tadi adalah sebuah keharusan, hanya saja tentu aturan aturan yang terterapkan antara keduanya harus sesuai dengan kaidah Islam. Dalam Al Qur’an surat An Nisaa ayat 58-59 Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.  Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu.  Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada kepada Allah (Al Qur-an) dan Rasul (sunnahnya).”

Kepemilikan kekuasaan umat Islam dalam kancah politik dan Negara menjadi harga mati dalam perjuangan masa kontemporer, merujuk pada perkataan dua ulama besar Ibnu Taymiyah dan Imam Al-Ghazali. Ibnu Taymiyah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak bisa diluruskan dengan Al-Quran maka diluruskan dengan kekuatan.  Oleh karena itu agama ditegakkan dengan Al-Quran dan senjata.”   Sedangkan Imam Al-Ghazali mengatakan, “Dunia adalah ladang akhirat.  Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia.  Kekuasaan dan agama adalah kembaran yang tidak dapat dipisahkan.  Agama adalah tiang, sementara penguasa adalah penjaga.  Bangunan tanpa tiang akan rubuh dan apa yang tidak dijaga akan hilang.  Keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dengan penguasa.”

Rasulullah SAW menyatakan, “Aku lebih utama bagi setiap Muslim ketimbang dirinya sendiri.  Siapa yang meninggalkan harta kekayaan, maka menjadi hak warisnya.  Siapa yang meninggalkan hutang atau anak-anak dan keluarga maka aku bertanggung jawab atas mereka.” (HR Muslim). Kewajiban Pemerintahan pada rakyatnya tentu sudah sangat jelas, menyampaikan amanat dan memberlakukan hukum dengan penuh keadilan. Dan kewajiban Rakyat pada Pemerintahan juga sangat jelas, yaitu taat serta patuh pada segala keputusan dan hukum Pemerintahan. Amanat dan hukum yang harus ditunaikan Pemerintahan mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari sosial, budaya, politik, ekonomi, hokum dan lain sebagainya.

Akan terjadi ketidak stabilan dan keadaan yang mengancam apabila salah satu dari kewajiban ini tidak terpenuhi. Ketidak adilan penegak Hukum Pemerintah atau ketidak taatan Rakyat pada Pemerintah. Bahaya yang ditimbulkan boleh jadi lebih besar dibandingkan bahaya yang bisa diakibatkan serangan musuh dari Negara lain. Mengutip perkataan salah satu tokoh dunia, Abraham Lincoln, “A Nation divided against it self never stand”

Khalifah Abu Bakar As Shiddiq melakukan pidato “kenegaraan” saat masa Pemerintahannya dalam upaya menghadapi dan mengantisipasi kemungkinan seperti diatas, ““Wahai manusia seluruhnya, aku diangkat untuk memimpin kamu dan aku bukanlah orang terbaik diantara kamu.  Jika aku membuat kebaikan maka dukunglah aku.  Tetapi jika aku membuat kejelekan maka koreksilah aku.  Kebenaran itu suatu amanat dan kebohongan itu suatu khianat….. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya.  Bila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka tiada kewajiban patuh bagi kamu terhadap aku…. ”

Keadaan Umat bila Pemerintah Melalaikan Kewajibannya

Rasulullah SAW pernah berkata dalam haditsnya : “Bila amanat disia-siakan tunggulah datangnya kiamat.”  Dikatakan : “Bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?” Rasulullah SAW bersabda: “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (H.R. Bukhari).  Orang-orang yang memiliki sifat korup dan bengis tentu bukan ahlinya (menjadi) penguasa atau pemerintahan. 

Apabila penyelewengan kekuasaan terjadi, ingkar atas amanah yang telah diberikan, melupakan kewajiban-kewajibannya, zalim terhadap ketetapan ketetapan hukumnya, maka akan terjadi bencana besar besaran pada seluruh aspek kehidupan: Sosial, Ekonomi, Politik, Budaya, Hukum, dan akhirnya akan menghancurkan keberadaan Negara itu sendiri.  Dan kehancuran masa depan umat menjadi hal mengerikan terakhir yang akan terjadi jika kewajiban kewajiban tidak dilaksanakan oleh Pemerintahan.

Bermacam-macam contoh Negara yang menyeleweng dari bentuk suatu Negara yang ideal karena tidak menjalankan kewajiban pemerintahannya. Ada sebuah Negara dengan sistem otoriter-diktator yang pemerintahannya membungkam segala bentuk kritik dan aspirasi rakyat bahkan segala macam aktivitas rakyat dipantau, jika diindikasikan mencurigakan maka Pemerintah tak ragu untuk membantai dan menghabisi rakyatnya. Dengan seperti itu maka Pemerintahan pun akan menjadi sangat korup karena tidak ada kekuatan yang mampu menandingi bahkan untuk sekedar mengawasi kebijakan keuangan Negara. Sistem yang diterapkan juga akan cenderung sekuler meski tidak secara resmi. Pemerintahan mengakui keberadaan agama agama, namun peran agama dalam pemerintahan diminimalisir sekecil mungkin hingga akhirnya menjadi sebuah unsur yang tidak berdaya. Budaya hedonism, matrealisme, pragmatism akan banyak berkembang. Hingga pada puncaknya Negara akan habis, segalanya sumber daya digerogoti pejabat pejabat busuk hingga tersia sia.

Hal yang paling sering terjadi dalam negara seperti di atas adalah diterapkannya politik belah bambu oleh penguasa—satu kelompok diperlakukan istimewa, sedangkan kelompok lainnya diinjak-injak. Dua kelompok ini kemudian dihasut untuk saling bermusuhan dan bahkan menyerang satu dengan yang lain.  Maka, dengan itu perhatian rakyat akan terpecah oleh persoalan-persoalan konflik horisontal dan meninggalkan persoalan-persoalan yang terkait dengan kebobrokan pemerintah.  Isu yang dikembangkan kadang persoalan rasial, agama, fasilitas, bahkan sampai-sampai persoalan-persoalan sepele yang kemudian direkayasa menjadi persoalan besar yang dapat menimbulkan bentrokan. 

Sungguh luar biasa bencana yang ditimbulkan oleh fitnah. Allah SWT secara khusus menyatakan ancaman fitnah dalam salah satu firmannya, “Dan takutlah terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kamu semata.  Dan ketahuilah bahwasanya balasan Allah sangat berat.” (Q.S. 8/Al-Anfaal: 24). Kelalaian dalam melaksanakan aturan Negara yang dilakukan oleh segelintir orang saja dapat memperngaruhi suhu politik suatu Negara, kezaliman yang dilakukan oleh seorang rakyat dapat memicu kehancuran masa depan umat, apalagi jika kelalaian dan kezaliman itu dilakukan oleh pejabat penguasa secara “berjama’ah”?
Pemerintahan harus berfungsi sebagaimana mestinya: Mengayomi dan mengatur rakyat secara adil dan bijaksana.

Aksi Umat dalam Menghadapi Pemerintahan Zalim

Sebenarnya masa depan suatu umat didalam lingkup Pemerintahan yang zalim dapat ditentukan oleh umat itu sendiri. Kita tentu ingat Umat Nabi musa yang ditindas oleh Penguasa Fir’aun yang kejam. Dengan keberanian kritis yang dilakukan oleh Nabi Musa serta umatnya Allah SWT memberikan pertolongan pada mereka dengan cara menghancurkan Fir’aun beserta pada pendampingnya. Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Setiap nabi yang diutus Allah kepada suatu kaum sebelum ku selalu punya pendukung dan pembela yang melaksanakan sunnahnya dan mematuhi perintahnya.  Kemudian kaum itu meninggalkan generasi yang mengatakan apa yang mereka tidak lakukan, melakukan apa yang tidak diperintahkan.  Siapa yang melawan mereka dengan kekuatan tangannya, maka dia adalah orang mukmin.  Siapa yang melawan mereka dengan kekuatan lisannya, maka dia adalah mukmin.  Siapa yang melawan mereka dengan kekuatan hatinya, maka dia adalah mukmin.  Selain tindakan itu, tidak ada lagi keimanan sebesar zarrah pun.” (H.R Muslim).

Seperti kisah Nabi Musa beserta kaumnya, terpeliharanya Negara dari penyelewengan penguasanya merupakan buah kerja rakyat, orang orang kritis yang mengelilingi penguasa tersebut. Mereka bisa dari golongan dalam Pemerintahan (Wazir atau Menteri) atau bahkan dari golongan rakyat kecil sekalipun. Oleh sebab itu umat tidak boleh diam saja, pasrah pada apa yang terjadi tanpa bertindak, pasrah tertindas dan ditindas. Tidak seperti itu! Kezaliman ada di depan mata, maka lakukanlah sesuatu untuk melawan bahkan melenyapkan kezaliman itu. Perlu diingat, para Pemimpin peminpin itu, mereka juga muslim, sama seperti para rakyat. Dan sesame muslim terikat oleh kontrak yang Allah tetapkan, yaitu saling menasehati dan mengingatkan dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih saying (QS. Al ‘Asr: 3)

Imam Muslim dan Ahmad meriwayatkan, pada suatu hari seorang sahabat, ‘Aidz ibn Amru (wafat 61 H) datang menemui salah seorang gubernur yang bernama Ubaidillah ibn Ziyad dan menasehatinya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang bengis.  Maka hati-hatilah engkau agar tidak termasuk ke dalam golongan mereka.” Ubaidillah ibn Ziyad kemudian menyahut: “Duduklah, sesungguhnya engkau hanyalah seorang yang tidak diperhitungkan (nukhoolatun) dari sahabat-sahabat Muhammad.”  ‘Aidz ibn Amru kemudian berkata: “Adakah orang-orang yang tak diperhitungkan pada atau di antara sahabat-sahabat Muhammad?  Sesungguhnya orang-orang yang tak diperhitungkan itu ada pada masa sesudah mereka dan di dalam masyarakat selain mereka.”

Dalam sebuah pertemuan di Istana Baghdad Al Hasan bin Zaid, gubernur Madinah, meminta seorang ulama shalih bernama Ibnu Abi Dzuaib yang ada di ruang pertemuan itu untuk menilai Khalifah Abu Ja’far Al Manshur.  “Apa yang engkau katakan tentang diriku ?” tanya  khalifah Abbasiyah itu.  “Engkau bertanya kepadaku seakan-akan kamu tidak tahu tentang dirimu sendiri?” Abi Dzuaib balik bertanya, “Demi Allah, engkaulah yang memberitahu aku,” kata Abu Ja’far menegaskan.  Abu Dzuaib akhirnya berkata, “Aku bersaksi engkau telah mengambil harta benda dengan cara tidak benar, lalu engkau memberikannya kepada orang yang tidak berhak atas harta itu. Aku juga bersaksi bahwa kezaliman merajalela di pintu rumahku.” 

Mendengar hal itu Abu Ja’far bangkit dari tempat duduknya lalu memegang tengkuk Ibnu Abi Dzuaib seraya berkata, “Demi Allah, andaikata aku tidak sedang berdiam di tempat ini, tentu sudah kuambil negeri Persia, Romawi, dan Turki dengan jaminan tengkukmu ini.” Abi Dzuaib dengan tenang berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Abu Bakar dan Umar telah menjadi pemimpin.  Mereka berdua melaksanakan kebenaran, berbuat dengan adil, mencengkram tengkuk orang-orang Persia dan Romawi serta dapat menonjok hidung mereka.”  Abu Ja’far melepaskan tangannya dari tengkuk Ibnu Abi Dzuaib seraya berkata, “Demi Allah, kalau bukan karena engkau orang yang jujur, tentu aku akan membunuhmu.”  Abi Dzuaib berkata, “Demi Allah wahai Amirul Mukminin, aku memberi nasihat kepadamu lantaran anakmu, Al Mahdi.” (Diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i).
Berpikir kritis terhadap setiap Pemerintahan menjadi sebuah kewajiban bagi rakyat, dengan melaksanakan kewajiban ini, Insya Allah para penguasa akan terketuk hati nuraninya agar menjalankan amanat sesuai dengan kewajibannya. Memberikan aturan dan hukum yang berkeadilan bagi rakyat. Jika Pemerintah yang zalim tidak mau menerima kritik dan aspirasi dari rakyat, maka akan terjadi sunatullah dimana akumulasi dari ketidak puasan rakyat akan memuncak dan memaksa terjadinya perubahan-perubahan Pemerintahan secara lebih tidak terkendali . Kekacauan dan fitnah mungkin akan banyak terjadi dalam masa perubahan itu, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kekacauan dan fitnah adalah hal yang mengerikan. Tetapi, sebagaimana terjadi pada masa-masa lalu, hal itu tidak dapat dihindari dalam mengiringi kemunculan terjadinya perubahan yang lebih menjanjikan masa depan.


Irham Nur Akbar
Mahasiswa Program Studi Arab FIB UI

»»  Baca Lengkap...

Sabtu, 28 Januari 2012

Hidangkan Dua Juz dalam Menu Setiap Hari


Mengapa harus dua juz setiap hari? 
Itulah judul tulisan pada lembaran fotocopy-an yang diberikan seorang senior beberapa minggu yang lalu. 
"Iya..kenapa harus dua juz, apa enggak kebanyakan tuh?" tanyaku pada seniorku itu. 
"Baca saja dulu, dicoba, dan lakukan saja terus menerus." jawabnya sambil senyum-senyum. 

Bukannya tidak bisa. Bisa sih, mungkin bisa kalau bulan Ramadhan. Bulan itu kan orang orang berlomba menghafalkan Al-Qur’an sebanyak mungkin. Suasana dan lingkungan memang mendukung untuk bisa mencapai target itu. Tapi kalau bulan biasa, setiap hari??? 
Ah!! Apa mungkin sanggup? Begitu pikirku pada awalnya. 

Terlepas bisa atau tidak, sanggup atau tak sanggup, kita kalkulasikan dulu waktu yang diperlukan untuk membaca Al-Qur’an. Dua Juz memakan waktu sekitar 60-80 Menit. Setiap hari kira kira waktu tersebut kita gunakan untuk apa, ya? Mungkin nonton TV, baca Koran, ngobrol dengan teman, berselancar di dunia maya? Atau untuk ikhwan mungkin digunakan menikmati pertandingan sepak bola klub favorit.

Jika 1 atau 2 jam tilawah terasa membosankan pada awalnya, kita bisa menyiasati agar “Menu” dua juz itu habis terlahap. Setiap kali selesai shalat sempatkan tilawah sekitar 15 menit, itu minimal dan mutlak. Jika belum terpenuhi dalam shalat lima waktu, maka manfaatkan waktu sebelum tidur, daripada membaca bacaan duniawi, lebih baik tilawah sampai ngantuk.

Lalu bagi para pekerja? Yang menghilang 15 menit saat waktu kerja adalah kemustahilan (kemustahilan tanpa dimarahi boss). Ini bisa juga disiasati, perjalanan dari Rumah ke tempat kerja tentu memakan waktu cukup lama. Apalagi mayoritas pekerja masa kini menggunakan kendaraan umum untuk sampai ke kantor (kereta, bus, dsb). Manfaatkanlah waktu dalam perjalanan. Maka target 2 juz setiap hari dapat menjadi keniscayaan.

Sebetulnya ada banyak sekali cara lain, tergantung bagaimana kita mengatur waktu kita masing-masing.  Tapi yang pasti, minimal dua juz dalam sehari…. Bisa!
»»  Baca Lengkap...

Persaudaraan Umat



Salah satu pelajaran terpenting yang sejatinya diteladani dan dilaksanakan oleh umat Islam saat ini dari peristiwa hijrahnya Rasulullah dan para sahabat dari Makkah ke Madinah adalah kuatnya persaudaraan antara kaum muslimin Anshar dan Muhajirin. Kaum Anshar tanpa rasa ragu menerima kedatangan saudaranya kaum Muhajirin untuk bersama-sama hidup membangun kejayaan Islam bersama Rasulullah yang mereka cintai.

Kuatnya persaudaraan ini Allah lukiskan dalam firman-Nya,

''Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum mereka, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka; dan mereka mengutamakan, atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'.'' (QS 59: 9-10).


Dalam konteks seluruh umat Islam, Rasulullah pun telah memberikan petunjuk bahwa umat Islam yang beriman adalah bersaudara. Bahkan, persaudaraannya lebih kuat dibandingkan persaudaraan karena keturunan. Rasulullah bersabda, ''Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah seperti sebatang tubuh. Apabila salah satu anggotanya kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit.'' (HR Muslim).

Firman Allah dan sabda Rasulullah di atas jelas menunjukkan bahwa umat Islam harus bersaudara dan bersatu. Janganlah kita mudah diadu domba oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu, berpecah belah dan bahkan tidak mempedulikan nasib sesama umat Islam.

Allah memerintahkan dalam firman-Nya, ''Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.'' (QS 3: 103).

Karenanya, dengan semangat kebersamaan, mari kita eratkan kembali persaudaraan dan persatuan umat agar kita dapat meraih kembali kejayaan, kehormatan, dan dapat berbuat lebih banyak bagi kebaikan, kemaslahatan, dan kemajuan umat. Mari kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah agar umat ini mendapatkan rahmat dan pertolongan-Nya. Semoga.



Lapangkanlah dada kami ya Rabb, dengan karunia Iman dan indahnya tawakkal pada-Mu. Hidupkan dengan makrifat-Mu, matikan dalam syahid di jalan-Mu. Engkaulah sebaik baik pelindung dan pembela. 
»»  Baca Lengkap...

"Tidak, bu. Barang itu bukan milik saya"

Meli tak menyangka akan begini jadinya. Ia terus berlari dan berlari, menghindari kerumunan dan amukan massa di sekitar Jakarta Barat. Dari kejauhan terlihat jilatan api dari beberapa gedung dan sisa asap pembakaran mobil. Massa yang beringas —yang entah datang dari mana— bersorak sorai. Kemudian terdengar suara-suara sumbang penuh hasutan: “Cari Cina! Cari Cina!”

Beberapa mata mulai memandangnya. Meli bergidik. Beberapa mata mulai merasa menemukan sasaran. Meli menatap ke depan. Lengang, tak ada satu kendaraan pun yang bisa membawanya pergi dari tempat itu. Cemasnya menjadi-jadi. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Berlari sekuat-kuatnya? Masuk ke rumah penduduk? Mereka telah menutup pintu rapat-rapat tanpa berani membukanya, setidaknya saat ini. Lalu? Matanya mulai nanar.

Tiba-tiba di antara bayangan kepulan asap, tampak seorang lelaki tua lusuh dengan sebuah sepeda kusam tua, menghampirinya. “Ibu Cina ,ya! Ibu mau kemana? Cepat naik ke sepeda saya, bu! Cepat!!”

“Ojek sepeda ya…, pak?”

Bapak dengan baju tambalan di sana sini itu mengangguk pelan.

Tanpa berpikir panjang, Meli segera naik ke atas sepeda tersebut. Si Lelaki tua mengayuh sepedanya kuat-kuat disertai peluh bercucuran yang membasahi bagian punggung bajunya, meninggalkan massa yang berpesta dalam amukan dan beberapa pasang mata liar yang urung mengejar mereka.

Sampai di belakang Glodok Plaza, Meli melihat banyak orang mengambil barang dari dalam toko-toko di sekitar sana. Dengan wajah puas orang-orang itu mengangkuti televisi, radio, komputer, kulkas sampai mesin cuci dan lain sebagainya. Meli tak mengerti. Mungkinkah barang-barang itu diberikan oleh pemiliknya agar toko tersebut tak dibakar? Atau massa yang menjarahnya? Beberapa tentara tampak berjaga-jaga, namun tak melarang siapa pun yang ingin mengambil barang.

Di sudut yang sepi, Meli menyuruh bapak tua itu berhenti.

“Ada apa, bu?”

“Pak, mendingan bapak ikut ambil barang-barang itu dulu. Biar sepedanya saya yang jagain. Itu orang-orang pada ngambil. Ambil dulu, pak!” ujar Meli. Hatinya tergetar melihat kemiskinan dan perjuangan lelaki tua ini untuk menghidupi keluarganya. Ya, apa salahnya ia menunggu sebentar dan menjaga sepeda ini sementara bapak itu mengangkuti barang yang bisa dia bawa pulang.

Di luar dugaan, bapak tua itu menggeleng dan tersenyum getir. “Tidak, bu. Barang itu bukan milik saya. Bukan barang halal. Saya muslim, bu.”

Meli tercengang beberapa saat. Benar-benar terenyuh. Orang tak mampu seperti ini, ternyata punya prinsip hidup yang sangat mulia.

Saat sampai di tujuan, bapak itu hanya meminta ongkos tiga ribu rupiah, jumlah yang tak berbeda dengan bila tak ada kerusuhan. Meli memberinya empat ribu, dan bapak tua itu meninggalkannya dengan riang. “Terimakasih, bu.”

Meli menatap lelaki tua itu hingga menjadi titik di kejauhan. Ia telah mendapat satu pelajaran yang luar biasa. Bukan dari siapa-siapa. Hanya dari seorang miskin, seorang muslim, seorang yang berbeda keyakinan dengan dirinya.
»»  Baca Lengkap...

Untuk Adik-adik di Rumah

-=Sebuah Tulisan dari Mbak Helvy Tiana Rosa=-

Waktu itu tahun 1987. Saya berkesempatan mewakili sekolah dalam Temu Diskusi Pelajar SLTA se Jakarta Bogor Tangerang dan Bekasi, untuk membahas masalah narkotika dan penanggulangannya.

Diskusi dibagi dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok berisi sepuluh pelajar. Saya beruntung bisa berada dalam kelompok diskusi yang hebat. Rekan-rekan diskusi saya semua sangat periang, humoris tapi juga 'berisi.' Bukan hal aneh, sebab kebanyakan dari mereka peraih ranking I di sekolah masing-masing.

Setelah salat Dzuhur, kami makan siang. Paket nasi, lauk, sayur dan buah ditaruh dalam dus. Kami diminta makan siang bersama kelompok diskusi masing-masing. Saya melihat Toto (bukan nama sebenarnya) dari sbuah SMU di Jakarta Timur, ketua kelompok diskusi kami, tidak makan.

"Mengapa tidak makan, To? Kamu nggak lapar?"

Dia tersenyum. "Makasih."

"Kamu puasa, ya?' tebak saya.

Ia mengangguk.

"Hari Rabu begini?"

Ia mengangguk lagi. "Jatah saya dibawa pulang."

Semua asyik makan dan tak lagi mempedulikan Toto.

"Wah, saya kenyang nih, nasinya kebanyakan...," suara seorang teman lelaki kami.

"Ya, gue juga nggak habis nih!" timpal yang lain.

Sari dari SMA 1, yang duduk di samping saya juga tak menghabiskan makannya. Lalu tiba-tiba saya juga merasa sangat kenyang.

Selesai makan kami menaruh kardus sisa makanan di kolong meja masing-masing dan bersiap-siap mengikuti ceramah di ruang utama.

Karena notes saya ketinggalan, setengah berlari saya pun kembali ke ruang diskusi ditemani Sari.

Saya hampir tak percaya dengan apa yang kami lihat di ruang diskusi. Tak ada siapa pun. Hanya Toto yang sedang melongok meja kami masing-masing dan mengeluarkan kardus sisa makanan kami semua. Saya menatapnya tak mengerti. Dan sebelum saya bertanya, Toto tersenyum, setengah menunduk.

"Untuk adik-adik di rumah, ...mereka pasti gembira...."

Saya tak sanggup berkata sepatah pun. Sari menggigit bibirnya sendiri. Sesuatu yang pedih merembesi relung-relung batin kami. Hanya mata ini yang semakin berkaca-kaca.

»»  Baca Lengkap...