Sebenarnya mula-mula aku hanya ingin
mampir sebentar, menghirup udara segar.
Namun, entah dari telur mana tahu-tahu
aku sudah ditetaskan disebuah sungai jernih, deras, tak punya kesempatan
memilih nasib..
Untungnya, aku bertemu banyak teman;
cericit burung dan daun pisang, pawai batang bambu, saling mengisi
Sesekali aku menyelusup di antara
cericik air dan bebatu, tempat aku dan kekasihku bertemu.
Ya, kami mulai bersepakat mengasihi
mungkin sama artinya dengan menyakiti?!
Itu benar, tapi apa mau dikata, air mengalir
dengan sendirinya, membentur dan memecah batu pula dengan sendirinya, tak ada
yang ikut campur.. Semua berjalan secara kudrati.
Kami mulai bersiasat, bercinta dan
membuat luka, berjanji hidup untuk mati, dan mati untuk hidup.
Hingga suatu hari ia menghilang,
meninggalkan pesan pada hujan
Jangan menunggu atau mencoba menerkaku,
kita lupa satu hal, aku bukan milikmu, sayangku!
Hari demi hari menjelma janji, aku
merasa begitu sepi, kala sang waktu, kekasihku memasang jarak teramat jauh.. Bahkan teramat jauh dari batas pandanganku.
Oleh karenanya, wajar jika kuputuskan
mengelana menyusul makna, mencari kebebasan yang mungkin di dapat lewat pilihan.
Aku mau pergi, mengenal alasan hidup
lebih dalam!
Meski kutahu, waktu adalah sebuah
perjalanan panjang yang menyesatkan.
Aku diberi nama salmon, sudah ada
selembar kontrak hitam di atas putih bagi kehidupan, oleh sebab itu sepantasnya
ini terjadi.
Di deras arus aku menjemput maut, ku
cari kekasih untuk berbagi, namun saat telah kudapati ia luput dihisap riak
Ah, andaikan kamu tahu telah kubawa
nafasmu berkilo-kilo meter bersama harap dan mimpi terdalam, mungkin
disamudera ini aku tak harus karam.
Sebab kekasih, aku lelah menawar harga
dunia, di samudera arus sangat karam, aku dibuat luka, aku ingin kembali ke
muara..
Tempat dulu kita pernah jatuh cinta,
melahirkan lembar-lembar baru, menetaskan telir-telur baru.
Dimana mutlak ruang bagi waktu dan waktu
padu untuk rindu
Dan aku tak perlu tahu, bahwa kau tak
sepenuhnya milikku....
0 komentar:
Posting Komentar