"Aku
mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua yang lain kecuali
diriku sendiri." Begitu Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah saw. Ia
hendak menyatakan cintanya kepada Sang Rasul. Dengan caranya sendiri. Tapi ia
tidak menduga kalau jawaban Sang Rasul justru berbeda sama sekali. "Tidak!
Wahai Umar! Sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri", jawab
Rasulullah saw.
Itu ciri
utamanya. Hirarki. Cinta misi berawal dan berujung pada satu dan hanya satu nama:
Allah Subahanahu Wataala. Tapi Allah yang menjadi awal dan akhir dari semua
cinta berkata kepada Nabi dan kekasih-Nya, Muhammad saw: "Katakanlah
kepada mereka, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku." Maka cinta
kepada Allah harus turun pada cinta kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. Tapi cinta
kepada Muhammad saw mengharuskan kita mencintai semua manusia yang telah
beriman kepadanya, khususnya para anggota keluarga yang luhur dan
sahabat-sahabatnya yang mulia, dan kepada semua generasi yang datang sesudah
mereka dari para tabiin dan pengikut para tabiin, serta siapapun yang mengikuti
jalan hidup (manhaj) mereka dari kaum salaf bersama seluruh generasi mukmin
hingga hari kiamat.
Cukup?
Belum! Masih ada lagi. Cinta pada orang-orang beriman mengharuskan kita
mencintai semua 'pekerjaan' yang mendekatkan kita kepada Allah, Rasul-Nya dan
orang-orang beriman. Jadi cinta kepada Allah harus turun pada orang dan
pekerjaan. Orang-orang itu terdiri dari Nabi dan semua orang
beriman. Pekerjaan itu terdiri dari semua amal saleh.
Begitu
hirarkinya. Semua cinta kita yang lain hanya akan menjadi lurus kalau ia
menyesuaikan diri dengan hirarki ini. Cinta pada istri-istri dan anak-anak dan
sanak saudara dan handai taulan dan sahabat karib dan rumah-rumah dan
mobil-mobil dan harta-harta dan semua dan semua hanya akan menjadi lurus jika
ia berada dalam ruang besar yang bernama cinta kepada Allah swt. Perasaan kita
harus ditata dalam struktur cinta seperti itu.
Cinta
misi adalah sebuah ruang besar tanpa batas. Semua cinta yang
lain harus disusun secara proporsional dalam ruang besar itu. Tidak mudah
memang. Tapi inilah sumber keharmonisan jiwa manusia. Hanya ketika emosi
tertata secara apik dalam hirarki cinta misi, kita menemukan pemaknaan yang
hakiki terhadap semua aliran emosi kita yang lain. Persis seperti anak-anak
sungai yang mengalir sendiri-sendiri: pada mulanya menyatu di hulu, lalu tampak
berpencar di tengah, tapi kemudian bertemu lagi di muara.
Dengan
cara itu Al Banna memaknai cintanya pada Allah dan dakwah. Suatu saat anaknya
terbaring sakit. Panasnya meninggi. Istrinya panik. Beliau sendiri sedang
menjalankan sebuah aktivitas dakwah. Tapi sang istri memanggilnya pulang. Ia
tidak kuat sendiri meghadapinya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada anak mereka. Tapi
sang dai menjawab enteng: "Ajalnya ada di tangan Allah. Kedatanganku tidak
akan menambah atau menguranginya."
*Nemu di file-file komputer. Penulis tidak diketahui.
0 komentar:
Posting Komentar